WOW !!! Oktoberirama, Konser Musik Orchestra Pertama di Gedung Kesenian Purworejo.

Event
oktoberirama-purworejo | acara musik Purworejo
profile
Ditulis oleh: Yosef Arie S

Blogger Purworejo | StandUpIndoPWR | Comedy Addict | Content Writer (Butuh Jasa Content Writer Hubungi Via Email) | storyofjho.wordpress.com | Contact : storyofjho@gmail.com

Artikel Dibaca : 636 Kali

Oktoberirama, Babak Baru Seni Musik di Kota (yang Seharusnya) Berirama

Ini adalah kali pertama Gedung Kesenian Purworejo membuka diri untuk pertunjukan orkestra. Spekulasi tentang seberapa megah pertunjukan akan berlangsung dapat dirasakan jauh-jauh hari. Juga seputar pengisi acara yang terdiri dari putra daerah penempuh studi seni musik di kota tetangga, telah sukses menjadi viral di sosial media.

Sabtu, 22 Oktober 2016, Komunitas Mahasiswa Musik UNY Purworejo (KMMUP) menggelar konser musik bertajuk “Oktoberirama – Dari Purworejo untuk Purworejo”. Antusiasme masyarakat tertuju pada bangunan bekas gedung bioskop itu. Terbukti sejak satu jam sebelum acara dimulai, lorong menuju ruangan utama sudah dipenuhi oleh antrian mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Nggak perlu menunggu lama untuk mengisi seluruh tempat duduk yang memang disediakan terbatas. Bagi yang terlambat berarti harus menyaksikan dari lantai dua.

Satu jam berikutnya dihabiskan dengan berbagai macam sambutan yang cukup melelahkan sebenarnya. Terlebih beberapa poin retoris dan agak menggelikan, seperti yang disampaikan oleh Wakil Bupati Yuli Astuti. Menurut beliau, masih saja ada permasalahan dari globalisasi yang berujung pada terkikisnya moral pemuda bangsa dan budaya asli. Dalam konteks ini, minuman keras dan narkobalah yang seakan-akan identik dengan kehidupan anak band. Maka dari itu, para pemuda dituntut untuk lebih kreatif dan berkarya positif. Diiyain aja deh….

Finally, the wait is over. Cahaya diredupkan, nada pertama mengalun mengawali “Purworejo Kucinta” yang dibawakan oleh chamber & choir (paduan suara) gabungan dari SMA 1, 2, 3, 7, dan Sanggar Musik Mentari di bawah sorotan spotlight berwarna biru. Suasana riang mengisi seisi gedung, 30-an anak-anak usia sekolah dasar dari Sanggar Mentari bernyanyi sambil membawa setangkai mawar merah. Di belakangnya, kakak-kakak mereka dari gabungan choir SMA berbagi tempat dengan para pemain orkestra. Lini utama terdiri dari biola, cello, flute, klarinet, terompet, saksofon, perkusi, gitar, bass, dan piano. Semuanya khidmat memperhatikan konduktor yang mengatur ritme melalui kibasan-kibasan baton yang dipegangnya, sambil sesekali melirik buku partitur.

Lagu pertama selesai ditunaikan, orkestra bergegas meninggalkan spotlight. Adik-adik Sanggar Mentari berjalan teratur membelah penonton, memberikan mawar dalam genggaman kepada mereka. Kemudian mereka berlomba-lomba mencari orangtua masing-masing yang menyaksikan dari kursi, menggemaskan sekali.

Sedikit kendala ditemui saat permainan piano delapan tangan merangkai komposisi medley lagu nasional. Noise pada sound system membuat denting-denting indah dari keempat player yang berbagi sepasang piano itu agak terganggu. Untung kesalahan teknis tersebut tidak berlanjut pada sesi berikutnya.

Duet piano dan biola memperkenalkan lagu “Nocturne” karya F. Chopin, salah satu musisi legendaris di era romantik. Suasana berubah mendayu saat Irene, nama gadis pemain biola yang malam itu mengenakan dress kuning tanpa lengan bertali pinggang hitam dan stilettoberwarna senada, menggesek biolanya. Penonton benar-benar dibuat hanyut terpukau hingga lagu selesai dimainkan.

Penampil berikutnya adalah Pandu, solois saksofon yang membawakan “Spain”, sebuah nomor milik musisi jazz terkenal, Chick Corea pemenang Grammy Award pada tahun 2001. Di bagian intro, suara saksofon begitu lembut membelai seisi gedung yang khidmat menikmatinya. Mendadak, tempo dan irama berubah menghentak dinamis. Volume tiupan dinaikkan mengimbangi musik progressive jazz dari section band. Liar!

“Spain” berakhir. Yaya, yang mengenakan jilbab naik ke atas panggung menenteng saksofon. Mereka beradu tiup dalam lagu “Dealova” yang dipopulerkan oleh Once. Kali ini suasana disulap duet ini menjadi romantis. Terus mengalir hingga lagu selesai dimainkan, kemudian mereka bergandengan tangan, membungkuk hormat kepada penonton yang dibalas dengan riuh tepuk tangan kala meninggalkan panggung. Menyaksikan permainan mereka seperti melihat sepasang kekasih saling berlempar candaan yang mengundang iri. Sabar ya, mblo.

Setlist berikutnya adalah permainan duet gitar memainkan tembang klasik “Tango Suite no. 2-3”. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan spesial dari Nocturnal Guitar Quartet. Mengalun berturut turut “Dance for Jeany”, “Ibu Kita Kartini”, hingga “The Swan”. Dan terakhir, “Baleganjur” yang dibumbui oleh nada-nada khas Bali nan kuat. Jangan heran kalau Nocturnal memenangkan kompetisi di level internasional. FYI, nggak banyak musisi nasional yang sukses mengadopsi pola-pola musik tradisional Bali ke ranah budaya populer. Beberapa di antaranya adalah Guruh Soekarnoputra, Dewa Dudjana, dan Tesla Manaf.

Kendala teknis kembali terjadi, lampu padam di beberapa titik yang disinyalir kurangnya asupan listrik. 30 menit sesi tanya jawab harus direlakan tanpa pengeras suara. But show must go on. Setelah keadaan teratasi, pasukan chamber & choir kembali mengambil alih panggung. Duet vokal seriosa Arga dan Memes membawakan “The Prayer” yang dipopulerkan oleh Andrea Bocelli dan Celine Dion menggema menjawab kekhawatiran penonton.

Dua lagu didapuk sebagai pamungkas acara itu, diawali dengan “Kutho Purworejo” yang dipopulerkan oleh Dul Giman. Nuansa campursari lagu aslinya dilebur dalam versi baru yang berbeda karena polesan klasik di sana-sini. Berlaku juga pada “Medley Dolalak,” yang akan membuat siapapun yang melewatkan Oktoberirama akan menyesal. Inilah bentuk kontemporasi dari lagu pengiring tarian asli Purworejo yang tidak lagi perkusif. Orkestrasi instrumental dan paduan suara bersanding melengkapi tiga penabuh dolalak yang diajak turut serta memeriahkan. Siapa sangka, teman-teman KMMUP menyulapnya menjadi sesuatu yang melodius dan epik.

PENONTON BENAR-BENAR DIBUAT HANYUT TERPUKAU HINGGA LAGU SELESAI DIMAINKAN.

Maka tersungginglah senyum ketika pintu keluar terbuka. Purworejo baru saja disegarkan oleh siraman konten musikal yang berbobot. Lebih spesial lagi karena putra daerah sendiri yang berunjuk kebolehan. Mereka sudah membuktikan bahwa seni musik di kota asal WR Soepratman, pencipta “Indonesia Raya,” siap memulai babak barunya.

Hanya saja, masih ada kekurangan dari Oktoberirama yang cukup mengganggu karena sebagian audience yang ndablek. Masih saja ditemui suara bisik-bisik di tengah-tengah berjalannya pertunjukan. Pun barisan fotografer ponsel yang keasikan memfoto atau merekam video tanpa memperhatikan keadaan sekeliling. Mungkin mereka belum terbiasa dengan menghadiri pertunjukan orkestra yang idealnya berada di dalam ruang senyap dan tenang. Selain menjaga konsentrasi para pemain, ketenangan tersebut membantu kita menangkap setiap detail musik yang disuguhkan. Peraturan ini seharusnya dimengerti oleh siapapun yang tahu untuk apa mereka datang.


Foto oleh: Irwan Ardiansyah (instagram: @ardiansyahxx)

Artikel Ditulis Oleh ” Ndaru (@kurniandaru) ” untuk Arahiyoung.com

Link Asal : http://arahiyoung.com/oktoberirama/


Tulisan Yosef Arie S Lainnya + View All

Comments


load

Blogger Purworejo © 2015 - 2016 | Design By : Kang Rofingi - Wpbtemplate.com