Bagaimana Memulai Sebuah Buku Ala Dewi “Dee” Lestari.

Artikel
Membuat Buku ala Dewi Dee Lestari
profile
Ditulis oleh: Yosef Arie S

Blogger Purworejo | StandUpIndoPWR | Comedy Addict | Content Writer (Butuh Jasa Content Writer Hubungi Via Email) | storyofjho.wordpress.com | Contact : storyofjho@gmail.com

Artikel Dibaca : 394 Kali

Banyak orang yang bermimpi ingin membuat buku. Sayang mimpi ini terkadang hanya sekedar menjadi mimpi karena tidak mendapat eksekusi yang baik.

Ada beberapa masalah yang kerap muncul saat ingin membuat sebuah buku. Mulai dari kesulitan mencari ide, tidak konsisten saat menulis atau yang sering menjadi alasan umum adalah tidak ada waktu untuk menulis lagi. Dan masih ada banyak lagi masalah-masalah lain yang sering dihadapi penulis dalam tahap membuat buku.

Masalah-masalah semacam ini tidak hanya dialami oleh penulis pemula, bahkan penulis yang sudah profesional pun mengalami beberapa masalah juga. Bedanya, penulis pemula selalu menyerah ditengah jalan, sedangkan penulis profesional selalu menemukan jalan keluar dari setiap masalah itu.

Sedikit sharing dari Dewi “Dee” Lestari tentang prosesnya membuat buku semoga bisa sedikit memotivasi kamu untuk segera menyelesaikan naskah bukumu

  • •• How to Start a Book : A Peek Inside One’s Writer Process •••

Apa yg mbak dee lakukan pertama kali sebelum menulis cerita/buku? Memikirkan alur, klimaks, ending terlebih dahulu atau langsung menulis ide cerita yg kita mau, yang lain dipikir sambil jalan?

Tahap pertama biasanya berurusan dengan ide: tema, bayangan konflik, bayangan karakter dan segala sifatnya, bayangan ending, bayangan twist, dll. Jadi lebih ke proses membayangkan hingga saya merasa ide tersebut cukup matang untuk dieksekusi.

Riset juga biasanya sudah berjalan di tahap ini, karena bayangan-bayangan tersebut bisa semakin jelas dengan bertambahnya informasi yang kita miliki tentang topik yg ingin kita tulis. Tahap berikutnya adalah teknis. Saya menentukan perkiraan volume cerita (sesuai dengan materi yang sudah saya kumpulkan dan bayangkan), setelah itu saya hitung target hariannya, hingga saya menemukan tanggal deadline kapan cerita itu selesai. Setelah deadline saya kunci, barulah saya memulai menulis.

Tips menjaga konsistensi karakter dlm sebuah cerita?

Kita harus benar-benar memahami karakter kita. Karakter yang berhasil adalah karakter yang mampu terlihat alami menggerakkan cerita, membuat pembaca lupa bahwa cerita itu “disusun” oleh penulis. Untuk itu semua yang tokoh fiktif kita lakukan, pikirkan, dan rasakan, harus sejalan dengan sifat, karakteristik, maupun kepentingannya. Butuh ketelitian dan juga jam terbang untuk bisa peka akan konsistensi karakter.

Karakter yang baik juga adalah karakter yang unik. Mereka harus tampil ibarat warna-warna yang berbeda di sebuah kanvas. Jadi kita harus memikirkan keunikan tiap karakter, meski itu karakter numpang lewat sekalipun. Harus ada cirinya, entah itu dari fisik, gaya bicara, pilihan kata-kata, dsb. Apalagi kalau kita membuat cerita dengan jumlah karakter yang banyak. Jangan sampai semua karakter kita terdengar sama. Warna-warna itu harus kontras agar “lukisan” kita jelas.

Adakah aturan tertentu agar tulisan layak jadi sebuah buku?

Karena saya mengawali karier kepenulisan saya lewat self-publishing, saya nggak gitu punya pengalaman cukup untuk menembus penerbit. Kalau saat ini, karena penerbit sudah tahu karakter tulisan saya seperti apa, jadi saya nggak harus lagi memperjuangkan tulisan saya supaya nembus redaksi.

Yang saya tahu, penerbit akan sangat menghargai tulisan yang rapi, minim typo dan kesalahan EYD. Kedua, cerita kita harus memikat sejak awal. Kalau novel mungkin sekitar 10 halaman pertama sudah harus bisa mengikat pembaca. Bayangkan, seorang redaktur harus membaca sekian banyak naskah per harinya, agar efisien tentu dia tidak akan menghabiskan waktu untuk membaca naskah hingga keseluruhan dengan detail. Jadi 10-15 halaman pertama sangatlah menentukan.

Apa kesulitan terbesar mba Dee dalam menulis buku?

Kesulitan terbesar biasanya adalah komitmen waktu. Menulis itu bagian terbesarnya bukan ide, menurut saya. Melainkan stamina untuk mengeksekusi ide tersebut. Dan menulis buku membutuhkan waktu yang panjang. Kadang kecepatan punya ide baru tidak seimbang dengan komitmen waktu yang bisa saya kasih. Kecepatan menulis saya rata2 1,5 tahun per buku. Jadi sampai hari ini banyak sekali ide2 yang mengantre untuk dieksekusi. Sekalinya saya berkomitmen kepada satu project, saya nggak bisa lagi menyambi dengan yang lain-lain. So, it’s all about time and time management.

Gimana cara menanggulangi jika tiba-tiba ada ide baru di pertengahan penulisan? Apakah rombak cerita, abaikan, atau disimpan untuk naskah selanjutnya?

Tergantung ide baru itu masih sejalan dengan cerita yang kita sedang bikin (memperkaya) atau sama sekali lain. Karena itu saya selalu menyarankan kita membuat semacam outline (kasar juga nggak apa-apa, minimal ada pegangan) dari ide cerita kita.

Menyusunnya dalam struktur drama 3 babak (3 Act Structure — ini pedoman yang sangat umum, bisa di-google). Kalau ada ide baru, yang mana hal ini nggak bisa dihindarkan dalam berproses kreatif, ya kita bisa cek struktur kita, bisa dimasukkan atau tidak.

Kalau ide tersebut adalah untuk cerita yang sama sekali lain, tuliskan saja agar konkret, lalu simpan. Biasanya letupan ide yang tahapnya cuma lewat di kepala begitu ditulis akan terlihat sendiri “muka asli”-nya. Kadang kita merasa terdistraksi, atau merasa ide baru itu lebih hebat, padahal kalau ditulis mungkin biasa-biasa saja. Nggak lebih dari celotehan yang lewat.

Jadi penting bagi kita untuk memahami bahwa proses kreatif adalah proses yang dinamis. Letupan ide baru, dsb, adalah hal yang biasa. Nggak usah jadi berharap bahwa 100% kita bisa patuh pada outline, tapi kalau outline sama sekali nggak ada, penulis cenderung tersesat dalam proses penulisan karena nggak ada patokan.

Tips ngatasin gagap ide? (Idenya tersendat2)

Banyak problem dalam proses menulis yang rasanya kayak bermacam-macam tapi solusinya sebenarnya satu. DEADLINE. Mau gagap ide, mau stuck, mau bosan, dsb, kalau kita memang berkomitmen, dan paham bahwa tidak setiap hari proses menulis kita lancar — ibarat cuaca yang kadang cerah kadang mendung — kita akan jalan terus. Gagap ide bisa jadi karena riset kita kurang, bisa jadi karena kita belum punya materi cukup, bisa jadi karena distraksi, dan seribu satu alasan lainnya. Tapi kalau kita memang berkomitmen untuk selesai, kita juga akan menemukan seribu satu solusi untuk itu.

Pengembangan diri apa yang dilakukan untuk menjadi penulis profesional?

Tingkatkan jam terbang dan pertajam skill. Menulis adalah otot yang harus dilatih. Mau otot menulisnya kuat? Ya latihanlah dengan rutin dan sering.

Untuk mempertajam skill, kita bisa belajar dari berbagai sumber. Membaca buku-buku bermutu adalah salah satu cara. Membaca bukan hanya untuk terhibur, tapi dengan itikad untuk belajar. Bagaimana seorang penulis menyusun plotnya, membangun karakternya, pelajari itu.

Kita juga bisa membaca buku2 teknis tentang menulis atau, yang lebih tepat guna, membaca buku2 tentang proses kreatif seorang penulis (mis On Writing – Stephen King). Ikut seminar, workshop, dll (yang sampai sekarang juga masih saya ikuti). Intinya, kita harus terus menumbuhkan semangat belajar dan ingin tahu. Menulis adalah lifetime skill.

Bagaimana tips kalau ada beberapa ide cerita tapi bingung untuk merangkai menjadi satu?

Susun jadi outline. Kebingungan seringkali terjadi karena semua itu dibiarkan jadi abstrak di kepala. Begitu dia dikonkretkan, dalam bentuk tulisan, akan kelihatan sendiri mana ide yang bisa dipakai dan tidak. Jadi segala macam ide yang kita miliki harus melalui proses uji coba, dengan cara: ditulis. Mau bikin mind map, diagram, dsb, itu terserah masing-masing.

Dari mana biasanya mbak Dee mendapatkan inspirasi?

Dari mana-mana. Kita tidak mencari inspirasi. Inspirasi yang menemukan kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjadi perseptif dan peka terhadap ketukan inspirasi. To be blunt, idea is cheap, being open to ideas is silver, but the commitment to work on the idea is the gold.

Apa karya (buku/film) yang paling menginspirasi mbak dee sampai saat ini?

Saya nggak punya “pegangan” buku atau film yang selamanya menjadi semacam primbon. I outgrow book and movie pretty fast.

Menurut Mba Dee, apa yang membuat novel mba dee disukai (best seller)?

Hmm. Saya tidak tahu pasti. Saya tipe penulis yang menuliskan buku yang ingin ia baca. Waktu tahun 2000, misalnya, saya sangat tertarik pada spiritualitas dan sains, saya ingin mencari buku yang bisa menggabungkan keduanya dalam fiksi, dan tidak saya temukan. Akhirnya saya menuliskannya sendiri dan jadilah Supernova.

Waktu Perahu Kertas, saya ingin sekali menemukan kisah cinta yang sesuai dengan selera saya; humoris, tapi juga emosional, dengan tipe2 karakter yang saya sukai. Saya merasa tidak menemukannya. Akhirnya saya menuliskannya sendiri. Ketika ada orang lain yang suka, bagi saya itu bonus.

Saya bersyukur ketika buku saya dibaca banyak orang berarti mungkin ada orang-orang yang memiliki kebutuhan atau ketertarikan seperti saya, dan akhirnya kami “bersinergi”, berjumpa lewat karya-karya yang saya tulis.

Tidak ada formula pasti kenapa sebuah buku bisa menjadi best-seller. Tapi setiap buku yang laku biasanya karena konten buku tersebut bisa beresonansi dengan banyak orang.

Apa 3 unsur paling kuat yang selalu ada didalam tulisan Mba Dee?

Sejujurnya, saya merasa pertanyaan tsb lebih tepat diajukan ke pembaca ketimbang kepada saya. Tapi saya akan berusaha jawab; 1). Humor 2). Pengetahuan 3). Emosi

Apa quote favorit yang mengubah hidup Mba Dee?

Nggak ada sih yang sampai sekuat itu.

Mengenai self publishing, ada tips dan triknya gak mba? Kelebihan dan kekurangan?

Kelebihannya: penulis benar-benar bebas, baik dari segi konten maupun marketing. Kekurangannya: harus punya SDM yang kuat, kalo nggak kewalahan sendiri.

Apa motivasi mb Dee awalnya hingga bisa terjun sebagai penulis?

Menulis memang passion saya sejak kecil. Sejak umur 9 tahun saya sudah mencita-citakan satu hari nanti akan melihat buku saya dijual di toko buku. Tapi memang karier saya di musik jalurnya terbuka lebih dulu, jadi orang baru tahu saya suka menulis belakangan.

Siapa penulis favorit mba Dee yang menginspirasi hingga sekarang?

Saya pembaca buku yang rajin, tapi bukan pembaca fiksi yang terlalu setia. Buku saya kebanyakan nonfiksi, karena ketika membaca saya memang lebih mencari ilmu/informasi ketimbang hiburan. Jadi sulit bagi saya untuk memiliki penulis fiksi yang saya ikuti terus karyanya.

Mba Dee punya waktu khusus kah untuk menulis? Misalnya di jam tertentu setiap harinya?

Saya sudah pernah mencoba berbagai ritme menulis. Dari mulai malam, larut malam, dini hari, pagi hari, dsb. Pada akhirnya saya menyimpulkan saat ini saya bisa menulis kapan saja. Yang penting saya diberi space untuk tidak diganggu (diajak ngobrol, balas telepon, dsb). Terakhir waktu nulis IEP saya biasanya menulis pagi hari. Tapi kadang2, sesuai dengan kondisi hari itu, saya bisa menyesuaikan ke siang atau sore. Tapi intinya sebelum malam hari. Karena malam hari adalah waktu saya dengan keluarga.

Mencoba memikat pembaca dari 10-15 lembar pertama dari sebuah buku seperti mencoba membubuhkan bubuk mesiu dalam tulisan biar bukunya meledak. Apakah mesti ide cerita pertama yg terlintas atau ada tips lain?

Ide cerita yang muncul pertama, atau kedua, atau ketiga,  tidak ada hubungannya dengan kualitas. Membuat cerita yang mengikat adalah perkara teknis.

Kita harus paham struktur cerita yang baik itu seperti apa. Kita juga harus paham yang membuat cerita menarik itu apa. Salah satu tips adalah mulailah membangun sedekat mungkin dengan konflik. Atau sesuatu yang membangkitkan rasa ingin tahu.

Kalau kita bertele-tele menggambarkan karakter kita bangun pagi, sarapannya apa, mandinya pakai sabun apa, lalu basa-basi selamat pagi dengan keluarganya, dsb, apakah hal tsb menarik? Tentu tidak. Sebuah cerita bergulir karena konflik, bukan karena rangkaian deskripsi demi deskripsi. Jadi kita harus cermat menempatkan trigger tsb.

***

Demikian sedikit ulasan tentang proses kreatif yang dilakukan Dewi “Dee” Lestari dalam membuat buku. Ulasan ini akan berguna jika kamu membacanya dan benar-benar mengaplikasikannya.

Selamat bergelut dengan naskah bukumu !!!

 

Sumber :

KULWAPP (Kuliah Wastsapp) RUMBEL MENULIS IIP JAKARTA
Jum’at, 25 Nov 2016 Pk.11.00
Narasumber: Dewi “Dee” Lestari
Host: Fita | Cohost: Fitri Restiana

 


Tulisan Yosef Arie S Lainnya + View All

Comments


load

Blogger Purworejo © 2015 - 2016 | Design By : Kang Rofingi - Wpbtemplate.com